Sering kali kita tidak menyadari bahwa seseorang yang paling patut untuk dicurigai adalah orang terdekat kita. Suami, istri, saudara, kekasih, teman, dan bahkan sahabat terdekat kita pasti punya sebuah rahasia yang tidak pernah kita ketahui. Yang paling buruk yang bisa terjadi adalah, kita tidak pernah tahu bahwa mereka telah membohongi kita.
Seharusnya aku berhati-hati mendeklarasikan kata sahabat bersama seseorang setelah dua kali gagal membina persahabatan dengan orang-orang yang salah, orang-orang yang tidak bisa mempercayaiku dan aku percaya. Seharusnya aku mengenalnya lebih jauh sebelum aku benar-benar terlena oleh semua yang ia ceritakan padaku, tentang kekasihnya, teman-temannya, prestasinya, perjalanannya ke berbagai tempat. Seharusnya aku bisa melihat dengan logis orang macam apa dia sebelum aku mengaguminya dan menganggap bahwa ia adalah orang hebat yang bisa membuat dunia ini jungkir balik. Aku bahkan hampir mati karena iri padanya.
Sekarang ia terbaring di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan berat di depan universitas tempat kami kuliah. Keadaannya saat inilah yang membuatku baru membuka mata, bahwa tak ada seorangpun yang datang mengunjunginya atau menanyakan keadaannya pada keluarganya, kecuali teman-teman sekampus kami, itu pun hanya beberapa dari mereka. Di mana teman-temannya di luar negeri yang sering ia ceritakan padaku? Di mana orang-orang institusi swasta yang kelak akan memperkerjakan dia setelah lulus kuliah nanti? Aku membawa ponselnya selama dua hari ini ia dirawat di rumah sakit dan tak ada satu pun yang menghubungi, baik lewat SMS maupun telepon, baik dari dalam maupun luar negeri. Jika memang ia punya banyak teman dan relasi, tahu tidak tahu mereka akan keadaannya, mereka pasti menghubunginya karena itulah yang sering ia ceritakan padaku.
Melihat kondisinya saat ini, aku tidak hanya kasihan, tapi juga merasa aneh. Curiga lebih tepatnya, curiga bahwa semua ini tidaklah nyata. Segala sesuatu yang ia ceritakan padaku selama setahun lebih ini tidaklah nyata. Entah kenapa, aku merasa bahwa semuanya hanya bohong belaka.
Di sisi lain, tiba-tiba saja aku teringat pada mantan kekasihnya yang pernah ia ceritakan padaku. Ia bilang mantan kekasihnya itu adalah seorang pengusaha kaya asal Inggris yang berekspansi ke Indonesia, tepatnya di Jakarta, dan dari situlah ia bertemu dengannya. Ia bercerita padaku, mantan kekasihnya itu meninggal karena tertabrak taksi di sebuah daerah rawan kecelakaan di Barcelona ketika ia sedang mengurus bisnisnya di Spanyol. Aku teringat pada Andrew Jackson karena faktor ‘kecelakaan’ yang sama-sama terjadi pada sahabatku dan mantan kekasihnya itu, betapa mereka sungguh mengalami nasib yang sama.
Ibunya menghampirku di depan pintu kamar inap kelas tiga tempat sahabatku itu dirawat, dan bertanya apakah aku masih belum ingin pulang. Aku mengangguk kecil menandakan keinginanku untuk pulang karena aku sendiri sudah berada di sini sejak tiga jam yang lalu.
Tiba-tiba, tanpa bisa kucegah, mulutku mengucapkan nama Andrew Jackson, “Saya jadi ingat tentang Andrew, Bu.”
“Siapa?” tanya beliau.
“Andrew, Ibu… Andrew Jackson. Kira-kira setengah tahun yang lalu dia meninggal karena kecelakaan di Spanyol. Ya kan, Bu?”
“Kecelakaan? Di Spanyol?” ibunya tampak kebingungan mendengar pernyataanku.
“Iya.” jawabku tegas.
“Innalillahi…Andrew itu siapa, ya? Apa dia pacarnya Mbak Atira?”
Sekejap perasaan curigaku membesar. “Oh, bukan, Bu. Bukan pacar saya. Andrew itu kan, dulu pacarnya Kiera. Pengusaha asal Inggris itu, Ibu ingat?” kataku seakan-akan mengingatkan ibu sahabatku akan mantan calon menantunya dulu karena Kiera, sahabatku itu, pernah bercerita kalau mereka sudah bertunangan.
“Pacarnya Kiera?” beliau mengerutkan dahi karena kebingungan. “Setahu Ibu, Kiera nggak pernah punya pacar. Ibu nggak pernah tahu dia punya pacar.”
Aku terdiam sejenak. Mungkin tidak sopan menginvestigasi sahabat sendiri ketika
ia sedang sekarat di kamar inap, tapi rasa penasaranku sudah tidak bisa ditahan lagi. “Atau mungkin Kiera menyembunyikan sesuatu dari Ibu?” tanyaku nekat.
“Nggak mungkin. Kiera itu anaknya jujur, dia selalu cerita sama ibu kalau ada apa-apa sama dia. Dia juga nggak pernah neko-neko, kalau nggak kuliah, paling-paling pergi sama adiknya.”
“Nggak pernah pergi ke luar kota, Bu? Atau ke luar negeri?”
“Walah…jangankan ke luar kota, jaga diri di dalam kota aja belum becus. Liat aja sekarang, sampai kecelakaan kayak gitu. Kalau mau ke luar negeri pake uangnya siapa? Kami ini kan, orang biasa.”
Aku terdiam sejenak untuk yang kedua kali. Bukankah ia pernah beberapa kali ke luar negeri? Ia pernah cerita, waktu SMA ia pernah unjuk kebolehannya bermain bass bersama teman-teman satu band-nya di Belanda atas rekomendasi sebuah kafe di Bandung. Ia juga pernah bercerita padaku bahwa Andrew sempat mengajaknya jalan-jalan ke London. Ia bahkan sempat meneleponku dari Spanyol tiga bulan yang lalu.
Tiba-tiba aku sadar bahwa ibu Kiera menatapku dengan rasa curiga dan tidak nyaman. Aku pun berusaha memperbaiki situasi. “Oh, maaf, Bu. Mungkin saya yang salah.”
Syila, adik Kiera, datang dari arah toilet menuju tempat kami berdiri. Begitu ia sampai di hadapan ibunya, beliau langsung memberikan perintah. “Nduk, tolong Mbak Atira dianter pulang.”
“Oh, nggak usah, Bu. Saya bisa pulang sendiri, kok.”
“Ga apa-apa. Lagian Mbak Atira sudah mau nungguin Kiera di sini lama, pasti capek.”
“Ayo, Mbak, aku anterin aja.” ajak Syila dengan sikap manis. Aku tak bisa menolak, bukan karena merasa tidak enak dengan ibu sahabatku, tapi karena aku ingin menanyakan sesuatu pada Syila, yang mungkin ibunya tidak tahu.
Di dalam lift, aku berusaha bertanya pada Syila secara tidak langsung. “Syil, ini HP-nya Kiera, kamu aja yang bawa.” kataku.
“Oh, oke.” sahutnya santai.
“Lagian temen-temennya nggak ada yang menghubungi.”
“Lho, bukannya kemaren temen-temennya Mbak Kiera udah pada jenguk semua?” tanya Syila heran.
“Kan, cuma temen-temen kampus.”
“Emang Mbak Kiera punya temen-temen lain selain yang di kampus?”
“Bukannya dia punya banyak temen di luar negeri gitu?” tanyaku, langsung menembak.
“Temen di luar negeri?”
“Iya, yang kenalan lewat situs jejaring itu.”
Syila mengerutkan dahinya dengan kebingungan yang sama yang ditampakkan ibunya tadi ketika aku menanyakan tentang Andrew Jackson. “Mbak Kiera emang ikutan situs kayak gitu sih, tapi temen-temennya paling cuma orang-orang Indo aja, terutama temen-temen SMA sama temen-temen sekampus. Nggak ada tuh yang dari luar negeri. Aku pernah kok, pake account dia buat iseng, nggak ada temennya yang dari luar negeri.”
Aku terdiam lagi untuk yang ketiga kalinya. Aku seperti baru saja terkena setrum yang membuatku terkejut setengah mati. “Terus, nomor HP-nya Kiera itu bisa nggak dibawa ke luar negeri.” tanyaku lagi.
“Buat nelpon gitu?”
“Iya.”
“Ya nggak bisa lah, Mbak. Kalo operator ini kan, belum punya fasilitas roaming international. Mbak ini gimana, sih?” jelas Syila sambil menunjukkan tulisan operator di layar HP Kiera padaku.
“Oh…”
***
Rasa penasaranku makin memuncak. Keesokan harinya aku tidak menjenguknya di rumah sakit. Aku justru pergi ke warnet dengan satu tujuan, mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Paling tidak aku bisa mendapatkan dan melihat buktinya dengan mata kepalaku sendiri.
Aku mulai dengan membobol alamat-alamat email teman-temannya di luar negeri yang pernah ia perlihatkan padaku, terutama yang di Inggris dan Belanda. Saat ini yang paling aku syukuri adalah ilmu teknologi informasi yang aku pelajari dari teman SMA-ku. Jahat memang, tapi aku tidak bisa terus-menerus curiga pada sahabatku sendiri dan menganggapnya berbohong tanpa mendapatkan bukti nyata. Hasilnya? Ternyata semua email itu dibuat di salah satu warnet di kota ini, bukan di Inggris atau di Belanda.
Kedua, aku mencoba mencari identitas Andrew Jackson yang sebenarnya di salah satu search engine. Sebagai seorang pengusaha kaya pemilik perusahaan besar yang mampu menjadi sponsor salah satu klub sepak bola Inggris, seharusnya ia cukup terkenal di dunia maya. Paling tidak, ada satu situs yang memuat tentang dirinya. Tapi tak ada satupun situs yang memuat tentang dirinya. Bahkan dalam situs perusahaan yang kata sahabatku ia miliki, bukan nama Andrew Jackson yang tertera sebagai pemilik sebelumnya.
Terakhir, aku membuka situs jejaringnya. Aku melihat daftar teman-temannya, dan karena ada yang private, aku terpaksa menjebol account Kiera agar bisa melihat halaman profil temannya. Aku periksa satu per satu, dan benar, semuanya orang Indonesia dan profil mereka semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Aku pun nekat membobol beberapa email mereka, dan semuanya asli dibuat di Indonesia.
Setelah hampir empat jam duduk di depan komputer, tubuhku pun akhirnya lemas karena lelah dan kesal. Lelah karena ‘bekerja’ terus-terusan di depan komputer, kesal karena selama ini aku telah tertipu oleh sahabatku sendiri. Terlebih lagi, aku kesal karena selama ini aku terlena dan percaya begitu saja padanya tanpa berusaha mencari bukti sendiri. Yang aku tahu saat ini adalah, aku marah pada diriku sendiri.
***
Kini aku terduduk lemas di atas kursi di samping tempat tidurnya. Aku memandang tubuhnya yang lemas dan belum sadarkan diri. Aku mencoba melihat dirinya secara realistis. Kiera, seorang gadis biasa berumur dua puluh satu tahun, seorang gadis yang bertubuh cukup tambun dan tidak cantik, dari keluarga pas-pasan, tidak cukup bergaul di kampus, dan bahkan di jurusan kami ia adalah satu dari beberapa mahasiswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya bisa dibilang kurang. Bagaimana bisa ia punya banyak teman dari luar negeri? Ia juga tak pernah sedikitpun punya keinginan untuk mengenalkan Andrew Jackson padaku.
Aku tidak mau meremehkan sisi lain dunia, tapi di dunia image seperti ini, sangat kecil kemungkinan seorang gadis seperti Kiera pernah punya kekasih seorang pengusaha kaya asal Inggris yang bisa memilih wanita yang lebih cantik atau lebih pintar darinya. Paling tidak, ia sendiri tak pernah berusaha membuktikannya.
November 2009.